Pages

Selasa, 01 November 2011

Tgs. Metode Riset Bab III ( Metodologi Penelitian )

BAB III

Metodologi Penelitian
Data Primer
Pada tahun 2008, penduduk Kabupaten Bekasi mencapai 2.193.776 jiwa, yang terdiri dari 1.122.855 laki-laki dan 1.070.921 perempuan. Dari tahun 2004 hingga 2008, Kabupaten Bekasi terus mengalami pertambahan jumlah penduduk, dari 1.950.209 jiwa pada tahun 2004, 2.027.902 jiwa pada tahun 2005, 2.054.795 jiwa pada tahun 2006, 2.125.960 jiwa pada tahun 2007, hingga mencapai 2.193.776 jiwa pada tahun 2008. Perkembangan sektor industri yang pesat merupakan pemicu terjadinya pertambahan penduduk di Kabupaten Bekasi dari tahun ke tahun.  Banyak tenaga kerja industri yang datang dari luar Kabupaten Bekasi.
Pada tahun 2008, penduduk menurut umur menunjukkan bahwa penduduk usia produktif (15 - 64 tahun) mencapai 1.513.029 orang (68,97%), sedangkan penduduk yang belum produktif (<10 tahun) 399.134 orang (18,19%) dan yang tidak produktif lagi (65 tahun ke atas) 67.005 orang (3,05%). Beban ketergantungan masih cukup tinggi yaitu sebesar 44,99. Angka tersebut menunjukkan bahwa setiap 100 penduduk produktif di Kabupaten Bekasi menanggung beban kebutuhan ekonomi dari sekitar 45 penduduk usia tidak produktif. Dibutuhkan lapangan kerja yang cukup banyak untuk menanggung beban kebutuhan ekonomi yang tinggi.

TABEL
JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN KECAMATAN
DI KABUPATEN BEKASI TAHUN 2008
Kecamatan
Jumlah Penduduk (Jiwa)
2004
2005
2006
2007
2008
Setu
73.888
76.83
77.776
80.476
83.016
Serang Baru
59.943
62.329
63.168
65.353
67.433
Cikarang Pusat
39.712
41.291
41.804
43.25
44.644
Cikarang Selatan
78.155
81.27
82.385
85.26
87.969
Cibarusah
57.921
60.232
61.042
63.188
65.189
Bojongmangu
23.446
24.378
24.691
25.505
26.286
Cikarang Timur
70.955
73.781
74.759
77.348
79.823
Kedungwaringin
49.575
51.551
52.224
54.025
55.737
Cikarang Utara
154.216
160.363
162.546
168.181
173.601
Karangbahagia
73.964
76.908
77.951
80.654
83.232
Cibitung
138.398
143.914
145.85
150.881
155.679
Cikarang Barat
149.594
155.566
157.631
163.079
168.261
Tambun Selatan
328.11
341.175
345.78
357.781
369.233
Tambun Utara
85.609
89.017
90.221
93.347
96.326
Babelan
141.5
147.139
149.132
154.301
159.247
Tarumajaya
79.204
82.363
83.492
86.381
89.124
Tambelang
33.374
34.703
35.119
36.294
37.41
Sukawangi
39.879
41.466
41.972
43.418
44.78
Sukatani
61.057
63.487
64.339
66.597
68.743
Sukakarya
42.085
43760
44328
45.859
47.343
Pebayuran
88.349
91.867
93.049
96.316
99.444
Cabangbungin
46.552
48.404
48.998
50.686
52.289
Muaragembong
34.723
36.108
36.538
37.78
38.967
Kabupaten Bekasi
1.950.209
2.027.902
2.054.795
2.125.960
2.193.776
Sumber: BPS Kabupaten Bekasi, Tahun 2009

Dan menurut data sensus penduduk Jawa barat 2010 Kabupaten Bekasi adalah kota urutan  ketiga yang mengalami pertumbuhan penduduk yang padat setelah Kab. Bogor dan Kab. Bandung.
Persebaran penduduk antar wilayah di Jawa Barat sangat bervariasi. Kabupaten Bogor merupakan wilayah administrasi yang memiliki jumlah penduduk terbesar di Jawa Barat yaitu sebanyak 4.763.209 orang, disusul Kabupaten Bandung sebanyak 3.174.499 orang dan Kabupaten Bekasi diurutan ketiga dengan jumlah penduduk sebanyak 2.629.551 orang, sebagaimana dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Jumlah Penduduk Jawa Barat menurut Kabupaten/Kota
dan Jenis Kelamin
No
Kabupaten/Kota
Penduduk
Laki-laki
Perempuan
Total
Seks Rasio
1
Kab Bogor
2.446.251
2.316.958
4.763.209
105
2
Kab Bandung
1.617.513
1.556.986
3.174.499
103
3
Kab Bekasi
1.345.500
1.284.051
2.629.551
104
Sumber : BPS Provinsi Jawa barat ( hasil sensus penduduk 2010 )

Eksplorasi Data
Data di atas tersebut di dapat dari hasil sensus penduduk. Dan data tersebut di peroleh melalui Sensus de jure, Registrasi penduduk dan Survai penduduk.


Nama   : Siti Arpah
Npm     : 14209879
Kelas    : 3EA11

http://www.crayonpedia.org/mw/DINAMIKA_PENDUDUK_8.1_SANUSI_FATTAH
http://phki.pl.itb.ac.id/sip/index.php?option=com_content&view=article&id=42&Itemid=122
tgs. metode riset, Pak Prihantoro


Selasa, 25 Oktober 2011

Tgs. Metode Riset

BAB II
Landasan teori
Data mengenai jumlah orang yang bekerja dan orang yang menganggur
merupakan salah satu jenis data yang dirancang secara cermat dan data
ekonomi yang sangat kmprehensif. Data tersebut dikumpulkan setiap bulan
dengan menggunakan prosedur yang disebut sample acak (random samplingi)
dari seluruh populasi.
Rumus Menghitung Tingkat Pengangguran
Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari prosentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.
Tingkat Pengangguran = Jml Yang Nganggur / Jml Angkatan Kerja x 100%
Jenis & Macam Pengangguran
1.      Pengangguran Friksional /Frictional Unemployment
Pengangguran friksional adalah pengangguran yang sifatnya sementara yang disebabkan adanya kendala waktu, informasi dan kondisi geografis antara pelamar kerja dengan pembuka lamaran pekerjaan.
2.      Pengangguran Struktural / Structural Unemployment.
Pengangguran struktural adalah keadaan di mana penganggur yang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja. Semakin maju suatu perekonomian suatu daerah akan meningkatkan kebutuhan akan sumber daya manusia yang memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya.
3.      Pengangguran Musiman / Seasonal Unemployment
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiaan ekonomi jangka pendek yang menyebabkan seseorang harus nganggur. Contohnya seperti petani yang menanti musim tanam, tukan jualan duren yang menanti musim durian.
4.      Pengangguran Siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.

Ledakan Penduduk
Dari banyak penelitian kita mengetahui bahwa faktor utama yang
menentukan perkembangan penduduk adalah tingkat kematian, tingkat
kelahiran dan tingkat perpindahan penduduk (migrasi). Dua faktor pertama
yang sangat besar peranannya dalam mempengaruhi laju pertumbuhan
penduduk.
Tingkat Kelahiran (Birth Rate)
Di negara-negara berkembang pertumbuhan penduduk berlangsung terus di samping adanya penurunan tingkat kelahiran; misalnya di perancis, Amerika Serikat dan inggris, tingkat kelahiran terus menurun sejak abad kesembilan belas sampai awal abad ini. Hanya setelah perang dunia ke-II, tingkat kelahiran meningkat dan mempercepat tingkat pertambahan penduduk. Tingkat kelahiran lebih dihubungkan dengan perkembangan ekonomi melalui pola-pola kebudayaan seperti: umur perkawinan, status wanitanya, kedudukan antara rural dan urban serta sifat-sifat dari sistemfamili yang ada. Di negara-negara yang sudah maju, terutama di negara-negara barat, penurunan tingkat kematian sungguh-sungguh telah diikuti oleh suatu
penurunan tingakt kelahiran pula.
Migrasi
Migrasi mempunyai peranan juga dalam menentukan tingkat pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu tingkat pertumbuhan penduduk tidak dapat diperhitungkan hanya dari tingkat kelahiran dan tingkat kematian saja. Bagi Negara negara sedang berkembang migarasi tidaklah berarti dalam peningkatan jumlah penduduk ataupun dalam pengurangan jumlah penduduk. Pemindahan penduduk ke luar negeri dari negara-negara yang sedang berkembang tidaklah mungkin dapat terlaksana lagi guna mengurangi kepadatan penduduknya. Hal ini disebabkan banyak Negara seperti Australia, Rhodesia dan Suriname tidak bersedia menerima poerpindahan dari negara-negara sedang berkembang yang padat penduduknya, dengan alasan kesulitan-kesulitan integrasi sosial dan rendahnya tingkat skill di negara-negara yang mengalami tekanan penduduk tersebut. Akibatnya dengan penurunan tingakt kematian yang cepat dan tetap tingginya tingkat kelahiran dan kurang efektifitas migrasi, maka pertumbuhan penduduk akan nampak sangat cepat dan mengakibatkan terjadinya ledakan penduduk di negara-negara sedang berkembang.
Urbanisasi
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota. Urbanisasi adalah masalah yang cukup serius bagi kita semua. Persebaran penduduk yang tidak merata antara desa dengan kota akan menimbulkan berbagai permasalahan kehidupan sosial kemasyarakatan. Jumlah peningkatan penduduk kota yang signifikan tanpa didukung dan diimbangi dengan jumlah lapangan pekerjaan, fasilitas umum, aparat penegak hukum, perumahan, penyediaan pangan, dan lain sebagainya tentu adalah suatu masalah yang harus segera dicarikan jalan keluarnya.

Tinjauan Riset Terdahulu
Gejala pengangguran yang terselubung didaerah pedesaan dan dilingkungan kota merupakan sebagian akibat dari kurang tersedianya lapangan kerja yang produktif penuh (yang membawa hasil kerja dan nafkah mata pencaharian yang memadai untuk memenuhi kebutuhan dasar).
Pengembangan Hipotesis
Masalah pengangguran dapat membawa rakyat mencapai tingkat hidup yang berada diatas garis kemiskinan absolut. Proses perkembangan perluasan kesempatan kerja secara produktif dapat memudahkan terwujudnya suatu pola pembagian pendapatan masyarakat yang lebih merata. Perluasan kesempatan kerja secara produktif (produktif employment) tidak hanya berarti penciptaan lapangan usaha yang baru, melainkan pula peningkatan produktifitas kerja pada umumnya.


Nama                    : Siti Arpah
Npm                      : 14209879
Kelas                     : 3EA11

Sumber :
duniabaca.com/faktor-penyebab-pengangguran.html
http://anneahira.com/masalah-pengangguran.htm
http://bestbuydoc.com/id/doc-file/4554/masalah-pengangguran-di-kota-bekasi-disusun-oleh-nama-derry-tritya-s-kelas-2-dd-04-npm-30208329-mata-kuliah-pengantar-ekonomi-pembangunan-universitas.html

tgs Metode Riset. Pak Prihantoro